12 Pelajaran Startup Steve Jobs Menurut Guy Kawasaki (Bagian 2)

steve-jobs

Steven Paul Jobs atau yang lebih dikenal dengan nama Steve Jobs, saat ini nama dan jalan hidupnya banyak dimasukkan ke dalam buku-buku motivasi dan bisnis. Siapa yang tidak kenal beliau? Kesuksesannya membangun perusahaan Apple dari garasi menjadikan ia sebagai sosok entrepreneur yang patut dicontoh.

Inilah lanjutan dari “12 Pelajaran Startup Steve Jobs Menurut Guy Kawasaki (Bagian 1)”.

7. “Work” or “doesn’t work” is all that matters

Sesuatu hal yang berhasil dan tidak berhasil itu semua pasti ada gunanya bagi Anda dan perusahaan Anda. Dengan kata lain, jangan memuja sebuah “agama”.

Pada satu sisi Apple percaya bahwa sistem tertutup akan berhasil, pada sisi lainnya Apple percaya bahwa sistem terbuka akan berhasil. Dan Apple tidak terpatok pada suatu “agama” sistem tertutup atau sistem terbuka, yang terpenting bagi Steve adalah apakah itu berjalan atau tidak berjalan, berhasil atau tidak berhasil.

Contohnya iPhone, ketika iPhone pertama kali diluncurkan, aplikasi dari pihak ketiga (third party apps) tidak diijinkan berada dalam iPhone. Awalnya App Store yang saat ini sangat terkenal di iOS awalnya adalah Safari plug-in. Pada awalnya Apple tidak inginkan aplikasi pihak ketiga masuk ke iPhone karena takut akan menggangu kualitas dari iPhone itu sendiri, jika Anda ingin menambahkan suatu aplikasi ke dalam iPhone Anda itu harus melalui Safari (web browser milik Apple).

6 bulan kemudian, iPhone sangat membludak di pasaran, dan banyak para customer dan developer yang mengajukan request kepada Apple untuk membuat aplikasi-aplikasi untuk iPhone. Dan Apple melakukan perubahan sistem tertutup menjadi sistem terbuka, sehingga orang-orang bisa membuat aplikasi untuk iPhone dan menggunakan aplikasi-aplikasi buatan pihak ketiga.

Jika Apple tetap memuja “agama” sistem tertutup, maka bisa Anda bayangkan iPhone tanpa App Store dan aplikasi pihak ketiga.

 

8. “Value” is different from “price”

Dengan mudah Anda bisa mendapatkan laptop lebih murah dibanding MacBook, Anda bisa mendapatkan tablet lebih murah dibanding iPad, Anda bisa mendapatkan music player lebih murah dibanding iPod, Anda bisa mendapatkan smartphone lebih murah dibanding iPhone. Lalu mengapa produk-produk Apple tetap laris terjual meskipun harganya mahal?

Value! Di dunia ini banyak orang-orang yang peduli dengan “value” dibandingkan dengan harga. Guy mengatakan Macintosh memang lebih murah, tetapi tidak jika Anda bandingkan kemudahan pemakaian, jangka waktu pemakaian, dan sebagainya.

Jika Anda sebagai entrepreneur berkompetisi dalam harga, itu adalah hal yang sangat sulit karena pasti suatu saat nanti Anda akan temukan produk-produk yang lebih baik dengan harga yang lebih murah. Tengoklah persaingan penjualan laptop, Anda memilih sebuah laptop dengan sistem operasi yang sama dan hardware yang sama, apa yang Anda lihat? Harga! (dan mungkin brand)

 

9. A players hire A players

Orang-orang dengan level A akan mempekerjakan orang-orang dengan level A, tetapi orang-orang level B akan mempekerjakan orang-orang level C. Ketika Anda mempekerjakan orang-orang level C, siapa yang akan dipekerjakan oleh orang-orang level C? Orang-orang level D! Dan seterusnya.

Menurut Guy, ini adalah “bozo explosion“. Anda sebagai entrepreneur, harus segera menghentikan “bozo explosion” sebelum terlambat. Ketika Anda sebagai perusahaan kecil, Anda berencana untuk mempekerjakan orang-orang level A dan orang-orang itulah yang harus Anda temukan. Ketika Anda menurunkan standar Anda untuk mempekerjakan orang, disanalah mulai terjadi “bozo explosion“.

Seringkali persepsi kita salah ketika mempekerjakan orang, Anda merasa Anda tidak boleh mempekerjakan orang yang lebih hebat dari Anda, karena Anda takut mereka akan menggeser posisi Anda, mereka akan menjadi lebih hebat dari Anda.

Jika menurut Steve “A players hire A players“, menurut Guy “A players hire A+ players“. Anda harus mempekerjakan orang-orang yang lebih hebat dari Anda. Para engineer seringkali salah kaprah mengenai hal yang satu ini, mereka sering kali menganggap bahwa engineering, programming, designing adalah hal yang sulit, selain itu semuanya mudah. Jika Anda berpikir seperti ini, Anda salah. Mungkin Anda harus menggali lebih dalam mengapa hal-hal selain jurusan engineering, ada jurusan-jurusan lain dalam program-program kuliah S1, S2, bahkan S3.

Pikiran Anda seharusnya adalah jika saya mempekerjakan seorang marketing, maka ia harus jauh lebih hebat mengenai marketing dibanding saya. Dan itulah hal yang harusnya Anda banggakan dalam diri Anda dan perusahaan Anda.

 

10. Real CEOs demo

Seorang CEO yang benar-benar CEO harus bisa mendemonstrasikan pengunaan produknya. Jika Anda ingin menjadi bos yang luar biasa, Anda harus bisa mendemonstrasikan pengunaan produk Anda sendiri. Saran Guy, jika Anda tidak bisa mendemonstrasikan produk Anda sendiri maka berhentilah, ada yang salah dengan Anda.

Steve Jobs membuktikan hal tersebut, dalam setiap presentasi Apple hampir selalu ia yang mendemonstrasikan pengunaan produk-produk tersebut.

 

11. Real Entrepreneur Ship

Don’t worry be crappy.

Karena dengan menjadi buruk sekali, Anda seharusnya bisa belajar dari kesalahan Anda dan melakukan jump curves (point nomor 6). Biasanya suatu ide atau produk yang buruk sekali adalah sebuah cikal bakal produk revolusioner. Jangan ragu untuk “mengirimkan” atau menjual produk Anda ketika produk Anda sudah siap.

 

12. Some things need to be believed to be seen

Kebanyakan orang-orang melakukan hal ini dengan terbalik, mereka harus melihat dulu baru percaya. Tetapi Steve mengajarkan bahwa Anda harus percaya terlebih dahulu.

Anda harus percaya dengan produk Anda, Anda harus mengirimkan produk Anda, dan orang-orang dan Anda sendiri akan melihatnya. Jika Anda menunggu produk Anda untuk dilihat terlebih dahulu maka itu tidak akan pernah terjadi. Inilah salah satu mengapa Macintosh berhasil, karena sekitar 100 orang yang bekerjasama dengan Steve Jobs membangun Macintosh percaya dengan Macintosh, dan karena mereka percaya maka Macintosh bisa sukses sampai seperti saat ini.

Berbeda apabila Steve dan 100 karyawannya berharap Macintosh sudah terlihat terlebih dahulu, baru setelah itu mereka percaya. Jika demikian yang terjadi pada waktu itu maka Macintosh tidak akan pernah sukses seperti sekarang.

 

Dan inilah 12 pelajaran yang dipelajari Guy Kawasaki dari Steve Jobs. Jika Anda ingin mendengar langsung dari Guy Kawasaki, Anda bisa menyaksikan video berikut ini.

 

Sumber gambar: thenest.com, slashgear.com

fold-left fold-right
About the author
Ricky Haryadi - Ia adalah co-founder Techrity dan co-initiator StartupBinus. Sebagai mahasiswa Information System ia sangat menyukai IT, musik, dan sepakbola. Kenali Ricky lebih lanjut melalui Twitter, blog pribadi, atau email.