12 Pelajaran Startup Steve Jobs Menurut Guy Kawasaki (Bagian 1)

steve-jobs

Steven Paul Jobs atau yang lebih dikenal dengan nama Steve Jobs, saat ini nama dan jalan hidupnya banyak dimasukkan ke dalam buku-buku motivasi dan bisnis. Siapa yang tidak kenal beliau? Kesuksesannya membangun perusahaan Apple dari garasi menjadikan ia sebagai sosok entrepreneur yang patut dicontoh.

Guy Kawasaki, seorang laki-laki keturunan Jepang-Amerika, adalah orang yang pernah bekerja dengan Steve Jobs 2 kali. Saat ini ia merupakan seorang venture capitalist, penulis, pembicara, dan penasihat. Guy bekerjasama dengan Steve Jobs ketika Apple masih sangat kecil, dan ia belajar banyak hal dari Steve yang merubah hidupnya.

Dalam sebuah acara Bank’s CEO Summit pada Oktober tahun lalu di Silicon Valley, Guy Kawasaki berbicara kepada para CEO startup di Silicon Valley mengenai 12 pelajaran hidup yang ia pelajari dari Steve Jobs semasa hidupnya.

Apa saja pelajaran-pelajaran tersebut?

 

1. “Experts” are clueless

Steve Jobs tidak mendengarkan para “expert“.

Guy mengatakan jika Anda berbicara dengan orang-orang yang mengaku “expert dalam sebuah bidang, maka jangan berharap mereka akan membantu Anda. Karena mereka akan mengarahkan Anda untuk melakukan hal-hal yang dilakukan oleh banyak orang, mereka tidak terhubung dengan para customer. “Expert“-lah yang mendengarkan Steve Jobs. Dan menurut Guy, jejaring sosial adalah kuncinya, Anda bisa berhubungan dengan siapa saja dengan sangat mudah saat ini.

Saran kepada Anda dari Guy adalah jika Anda menemui orang-orang yang mengaku bahwa mereka adalah “expert” atau “guru“, itulah orang-orang yang harus Anda hindari. Karena sebagai entrepreneur Anda harus keluar dari “kotak dan “zona nyaman” Anda.

2. Customers cannot tell you what they need

Jika Anda bertanya kepada customer apa yang mereka butuhkan pada jaman sebelum ada mobil, maka jawaban mereka adalah mereka butuh kuda yang lebih kuat, kencang, bertenaga, dan mudah dirawat. Tidak akan ada customer yang menjawab saya butuh sesuatu yang tidak perlu diberi makan, bisa berlari kencang kapan saja saya mau, tidak sakit-sakit-an, tahan lama, saya nyaman berada disana (tidak terkena hujan), dan lain sebagainya yang mendiskripsikan sebuah mobil.

Anda tidak bisa bertanya kepada customer, bagaimana cara membuat sesuatu hal yang revolusioner. Karena para customer hanya akan mendeskripsikan hal-hal yang ia inginkan dengan lebih baik, lebih murah, lebih baik, lebih murah.

 

3. Biggest challenges beget the best work

Jika Anda membuat sebuah startup, hal yang sering kali dibingungkan ketika akan merekrut karyawan atau partner adalah apa yang bisa Anda berikan kepada mereka sebagai gantinya. Tetapi yang harusnya Anda pikirkan adalah berikan mereka tantangan yang sangat besar.

Berikan karyawan, partner Anda a magnificent challenge. Inilah cara bagaimana Anda bisa memaksimalkan seseorang dalam bekerja.

 

4. Design counts

Didalam persaingan dunia dimana semua orang berbicara mengenai harga, banyak orang yang peduli dengan design. Kembali lagi ke point pertama, disinilah ketika Anda berbicara dengan experts mereka akan banyak berbicara mengenai harga.

Mungkin hanya 10% dari orang-orang yang peduli dengan design, tetapi Apple telah membuktikannya bahwa design itu sangat bernilai. Begitu juga ketika Anda memasarkan sebuah produk, Anda pasti merasakan perbedaan yang signifikan ketika Anda memasarkan sebuah produk dengan design yang bagus dengan produk design yang jelek.

User Interface dan User Experience bukanlah hanya sebagai pelengkap dari algoritma program Anda, tetapi bagi sebagian orang itulah produk Anda. Itu sebabnya saat ini banyak lowongan pekerjaan yang menawarkan user interface (UI) designer, user experience (UX) designer.

Steve Jobs telah membuktikannya 5 kali yaitu Macintosh, iPod, iPhone, iPad, iTunes.

 

5. Big graphics Big font

Ini berlaku dalam presentasi Anda, menurut Guy font minimal untuk sebuah presentasi adalah ukuran 16. Jika Anda mempelajari bagaimana Steve Jobs berpresentasi, ia selalu menggunakan gambar-gambar-gambar dan gambar, dan 1 kata. Atau paling tidak kata-kata yang ia anggap kunci utama akan ia perbesar.

 

6. Jump curves, not better sameness

Jangan mengincar 10% lebih baik dari produk lain, tetapi Anda harus membuat 10x lebih baik dari produk lain tersebut.

Contoh sederhana bagaimana Anda bisa melakukan jump curves adalah penemuan lemari es.

Ice 1.0
Dimulai pada jaman dahulu sekali ketika orang-orang mulai menemukan kenikmatan es. Orang-orang yang cukup cerdik memanfaatkan hal ini sebagai bisnis, dimana pada saat musim salju mereka mendatangi danau atau sungai yang beku, lalu mereka memotong-motong air yang membeku tersebut menjadi balok-balok kemudian menjualnya.

Ice 2.0
30 tahun kemudian, terjadilah sebuah ‘jump curves‘ dengan bermunculannya pabrik-pabrik es. Pabrik-pabrik es ini mensolusikan masalah bagi Anda tidak harus menunggu musim salju, Anda tidak harus berada di daerah-daerah yang dingin, melainkan Anda bisa membekukan pabrik tersebut kapan saja dan dimana saja, kemudian Anda memesannya dan balok es segera datang ke rumah Anda.

Ice 3.0
20 tahun kemudian, munculah sebuah lemari es. Dengan menggunakan lemari es, Anda mempunyai pabrik es di rumah, sehingga Anda tidak harus memesan dan menunggu kiriman es balok datang ke rumah, tetapi Anda bisa membekukan air dan Anda bisa menikmati es tersebut kapan saja Anda inginkan di rumah Anda.

Inilah yang disebut sebagai jump curves! Kebanyakan bisnis kesulitan berevolusi ketika perkembangan jaman datang, orang-orang yang mendefinisikan bisnisnya sebagai pabrik es, kemudian muncul lemari es, dan bisnis tersebut mati. Mereka tidak bisa berevolusi dari pabrik es menjadi pabrik pembuat lemari es.

10% lebih baik tidak cukup, Anda harus 10x lebih baik!

 

Update: 12 Pelajaran Startup Steve Jobs Menurut Guy Kawasaki (Bagian 2).

Sumber gambar: toxichominid.com, presentonomics.com, iolanibulletin.org

fold-left fold-right
About the author
Ricky Haryadi - Ia adalah co-founder Techrity dan co-initiator StartupBinus. Sebagai mahasiswa Information System ia sangat menyukai IT, musik, dan sepakbola. Kenali Ricky lebih lanjut melalui Twitter, blog pribadi, atau email.